Rabu, 27 September 2017

frozter

FROZTER
Terlahir sebagai seorang tuan putri di sebuah kerajaan besar nan makmur ditambah lagi sebuah anugrah kekuatan yang luar biasa. Bahkan  beberapa waktu lagi aku akan menyandang gelar sebagai seorang ratu. Bukankan terlihat begitu sempurna hidupku? Tapi siapa sangka kesempurnaan yang mampu membuat seluruh wanita di dunia ini iri padaku justru dianggap sebuah kutukan bagi orang tuaku.
 Sejak kecil orang tuaku mengurungku di kamar dan melarangku berinteraksi dengan siapapun hanya karena sebuah kesalahan kecil yang tak sengaja aku lakukakan. Aku masih ingat dengan jelas kejadian hari itu. Hari dimana adik perempuanku satu-satunya memaksaku bermain salju bersamanya padahal kala itu adalah musim panas. Bagaimana bisa? Ya, itulah kekuatan maha dasyatku yang membuatku dianggap monster oleh orang tuaku.
 Aku mengikuti kemauan adikku yaitu membuat salju diruangan bagian paling belakang istana. Bagaimana pun juga aku masih anak-anak saat itu. Saat-saat bermain adalah pekerjaan utama kami. sampai aku melakukan sebuah kesalahan, kata orang tuaku tentunya. karena aku tidak merasa aku bersalah saat itu. Adikku yang memaksa. Aku mengarahkan kekuatanku ke adikku yang membuatnya kesakitan lalu pingsan.
Sejak saat itu orang tuaku membatasi ruang gerakku. Aku kehilangan masa kecilku, aku kehilangan kebebasanku dan aku kehilangan keluargaku. Aku tak pernah bertemu lagi dengan adikku. Orang tuaku mengunjungiku hanya beberapa kali itupun untuk memperingatiku tentang aku yang harus mengendalikan kekuatanku. apakah mereka bisa disebut keluarga? kurasa tidak.
Aku kesepian, aku ketakutan, aku butuh seseorang. Tapi tak ada satupun yang mengerti aku. Orang tuaku memberiku kesempatan untuk keluar kamar. Mereka selalu berpikir aku berbahaya, aku akan menyakiti semua orang. Aku diperlakukan begitu tidak adil.
…..
Aku mengintip melalui lubang kunci kamarku. Aku melihat adikku yang bisa berlari kesana-kemari, bernyanyi, dan bercanda dengan kedua orang tuaku. Sedangkan aku disini. Tak ada yang mau mengajakku berbicara bahkan aku tak akan heran jika mereka tak tahu bahwa ada aku disini.
Samar-samar aku mendengar percakapan adikku dengan kedua orang tuaku. Orang tuaku mengatakan besok mereka berdua, ayah dan ibukku haraus berlayar ke pulau sebrang untuk urusan bisnis.
Aku beranjak dari depan pintu menuju ranjangku. Aku tak peduli dengan apa yang akan mereka lakukan. Aku hanya ingin segera keluar dari tempat ini. Tempat yang lebih mirip penjara dibandingkan kamar seorang tuan putri. Calon ratu negeri ini. Karena bagaimanapun juga aku seorang anak pertama. Aku yang berhak menyandang gelar ratu.
Aku mecoba memejamkan mataku tapi aku tak juga mampu terlelap. Aku membolak-balikan badanku mencari posisi nyaman. Tapi tetap saja aku masih tetap terjaga. Pikiranku sedang kalut. Aku perlu melalakukan sesuatu.
Aku melihat keluar lalu berjalan menuju jendela kamarku. Aku berdiri sejenak didekat jendela. Betapa menyenangkannya jika keluar dari sini. Merasakan hembusan angin malam. Berdiri dibawah bintang-bintang.
Ini sudah tengah malam bukankah tak apa jika aku keluar diam-diam. Tak akan ada yang melihatku. Semua orang sedang terbuai oleh mimpi mereka. Jadi kemungkinan aku ketahuan sangat kecil.
……..
Tok tok tok tok tok
Aku menggeliatkan tubuhku saat mendengar ketukan pintu dan suara ibu yang memanggilku di balik pintu. Aku melihat kearah jendela. Bahkan mataharipun belum muncul. Bagaimana bisa dia menggangguku dipagi buta seperti ini. Apa dia tidak tahu jam berapa aku tidur semalam. Ah, tentu saja tidak.
Ceklek
Aku membuka pintu kamarku. Kulihat ayah dan ibu di depan pintu kamarku berpakaian begitu rapi.
“kami akan melakukan perjalanan bisnis selama seminggu. Kuharap kau tetap menjadi gadis baik seperti biasa sampai kami kembali!” kata ibu.
Lihatlah seperti apa mereka berpamitan padaku. Mereka begitu mendeskriminasiku. Mereka begitu lembut kepada adikku. Tapi kepadaku? Mereka hanya mengatakan hal bodoh seperti itu.
“Haruskah kalian pergi?” Tanyaku khawatir.
Ya, bagaimanapun juga aku mengkhawatirkan mereka. Aku takut terjadi apa-apa pada mereka
“tenanglah, harusnya kami yang mengkhawatirkanmu.” Sambung ayahku.
“Oh, baiklah pergilah selama kalian mau.” Kataku kemudian.
………
Adikku mengetok kamarku. Seperti biasa aku membiarkannya. Dia mengatakan kapal orang tua kami mengalami kecelakaan. Adikku menangis dibalik pintu kamarku. Dia memintaku untuk keluar. Tapi aku tak mempedulikannya. Aku sudah terbiasa sendiri, aku benci harus dibertemu dengannya dan diganggu olehnya.
Orang tuaku telah tiada. Bukankan negeri ini butuh seorang ratu. Hari pengangkatanku sebagai seorang ratu masih dua tahun lagi. Tapi siapa yang peduli. Hal itu hanya berlaku jika raja dan ratu masih hidup. Sedangkan sekarang akulah yang memiliki jabatan tertinggi. Jadi mereka harus patuh padaku.
Aku keluar dari kamarku setelah adikku pergi. Aku bertemu salah seorang penghuni istana. Aku memerintahkan padanya untuk mempersiapkan sebuat pesta pengangkatan ratu besok.
…….
Aku mematut diriku di cermin. Aku bersiap untuk keluar. Hal yang sangat aku impikan selama bertahun-tahun. Masyarakat sudah pada berkumpul di aula istana saat aku keluar.
Seorang pria tua mendekati untuk melakukan upacara pengangkatanku sebagai seorang ratu. Dia memberiku dua benda yang entah aku tak tau namanya yang jelas benda itu adalah symbol kerajaan kami. Tentu aku tidak mebekukan benda itu. Aku tidak dalam keadaan tertekan, ketakutan ataupun sedih. Entalah aku sudah kehilangan emosi itu sejak lama.
Usai upacara pengangkatanku adalah pesta dansa. Adikku medekat, berusaha mengajakku bicara. Aku mengacuhkannya. Sampai ada seorang pria yang medekati kami dan mengajakku berdansa. Ini kesempatanku untuk mengusir adikku. Aku menyuruh pria itu untuk berdansa saja dengan adikku.
Aku melihat seluruh ruangan sambil mebalas sapaan dari masyarakat yang mengucapkan selamat padaku. Pesta ini sangat meriah. Tapi aku merasa ada yang kurang. Sepertinya aku harus membuatnya lebih meriah lagi.
Tiba-tiba adikku mendekatiku bersama seorang pria tampan yang belum pernah aku lihat sama sekali. Adikku mengatakan dia akan menikah dengan pria tersebut dan mengajak sang pria beserta keluarganya untuk tinggal disini.
“tidak! Aku tidak akan mengizikan. Tidak aka nada pernikahan dan tidak akan ada yang tinggal disini!” kataku tegas.
Dia pikir, dia siapa bisa memutuskan sesuatu dengan seenaknya. Aku ratu disini dan aku yang berhak memutuskan apapun.
Adikku protes kepadaku dia tidak bisa menerima keputusanku. Dia tak henti bicara membuatku semakin marah padanya. Aku mengarahkan kekuatanku padanya, membuatnya terjatuh dilantai dan rambutnya berubah putih.
Salju turun di istana ini semakin lama semakin kencang. Aku membekukan tembok, pintu dan jendela istana ini. Masyarakat mulai ketakutan. Mereka berlarian mencari jalan keluar. Tapi sia-sia mereka tidak akan pernah keluar dari ruangan ini. Mereka mengatakan aku moster sama seperti yang orang tuaku katakan.
“Kalian tahu, aku juga seorang manusia. Hanya karena kekuatanku kalian semua menganggapku monster. Orang tuaku mengurungku dan aku tak diizikan melakukan apapun.” Kataku lalu perpaling mendekati adikku.
“Dan kau adikku kecilku. Kau tau ini semua karenamu. Kau yang memaksaku mengunakan kekuatanku. Tapi ketika sesuatu terjadi pada. Kenapa harus aku yang bertanggu jawab? Kau mengjhancurkan seluruh hidupku. Aku menanggung kesalahan yang kau lakukan seorang diri. Sedangkan kau. Kau menikmati masa kecilmu, kau mendapatkan apapun yang kau inginkan. Mendapatkan kasih sayang orang tua kita, mendapat perhatian dari seluruh masyarakat dan sekarang mendapat cinta dari seorang pangeran.” Lanjut sambil menatap adikku yang sudah sekarat di lantai.
“ah, harusnya ayah dan ibu melakukan perjalanan sejak dulu jadi aku bisa merusak kapalnya dan melakukan ini sejak dulu.” Kataku yang mulai mengangkat tanganku dan membekukan semua orang disini.
…...
Aku memegang perutku kelaparan. Aku memanggil para boneka salju ciptaanku. Menyuruh mereka menyiapkan makanan untukku. Aku mendekat kepatung es lalu mencairkannya. Para boneka salju langsung menangkap sesuatu yang telah kucairkan tadi dan memasknya menjadi sup daging yang lezat.
Selesai makan aku berjalan mengilingi istana. Melihat para pelayanku. Makhluk kecil nan lembut. Tak ada manusia disini. Yang ada hanya patung es dan mereka akan berubah lagi jadi manusia ketika aku lapar.
Awalnya aku juga seorang manusia sedingin apapun aku, aku juga masih punya hati. tapi kalian yang mebuat hatiku mebeku.ketidak adilan Kalianlah yang membuatku menjadi moster. Yang aku tahu, aku menjadi monster bukan karena kekuatanku tapi karena kalian. Dan setelah kalian tak bisa melakukan apapun. lihatlah tempat ini berubah lebih indah dan damai. Aku melihat seluruh patung es dihadapanku dan tersenyum penuh kemenangan.

 Aku mengikuti kemauan adikku yaitu membuat salju diruangan bagian paling belakang istana. Bagaimana pun juga aku masih anak-anak saat itu. Saat-saat bermain adalah pekerjaan utama kami. sampai aku melakukan sebuah kesalahan, kata orang tuaku tentunya. karena aku tidak merasa aku bersalah saat itu. Adikku yang memaksa. Aku mengarahkan kekuatanku ke adikku yang membuatnya kesakitan lalu pingsan.
Sejak saat itu orang tuaku membatasi ruang gerakku. Aku kehilangan masa kecilku, aku kehilangan kebebasanku dan aku kehilangan keluargaku. Aku tak pernah bertemu lagi dengan adikku. Orang tuaku mengunjungiku hanya beberapa kali itupun untuk memperingatiku tentang aku yang harus mengendalikan kekuatanku. apakah mereka bisa disebut keluarga? kurasa tidak.
Aku kesepian, aku ketakutan, aku butuh seseorang. Tapi tak ada satupun yang mengerti aku. Orang tuaku memberiku kesempatan untuk keluar kamar. Mereka selalu berpikir aku berbahaya, aku akan menyakiti semua orang. Aku diperlakukan begitu tidak adil.
…..
Aku mengintip melalui lubang kunci kamarku. Aku melihat adikku yang bisa berlari kesana-kemari, bernyanyi, dan bercanda dengan kedua orang tuaku. Sedangkan aku disini. Tak ada yang mau mengajakku berbicara bahkan aku tak akan heran jika mereka tak tahu bahwa ada aku disini.
Samar-samar aku mendengar percakapan adikku dengan kedua orang tuaku. Orang tuaku mengatakan besok mereka berdua, ayah dan ibukku haraus berlayar ke pulau sebrang untuk urusan bisnis.
Aku beranjak dari depan pintu menuju ranjangku. Aku tak peduli dengan apa yang akan mereka lakukan. Aku hanya ingin segera keluar dari tempat ini. Tempat yang lebih mirip penjara dibandingkan kamar seorang tuan putri. Calon ratu negeri ini. Karena bagaimanapun juga aku seorang anak pertama. Aku yang berhak menyandang gelar ratu.
Aku mecoba memejamkan mataku tapi aku tak juga mampu terlelap. Aku membolak-balikan badanku mencari posisi nyaman. Tapi tetap saja aku masih tetap terjaga. Pikiranku sedang kalut. Aku perlu melalakukan sesuatu.
Aku melihat keluar lalu berjalan menuju jendela kamarku. Aku berdiri sejenak didekat jendela. Betapa menyenangkannya jika keluar dari sini. Merasakan hembusan angin malam. Berdiri dibawah bintang-bintang.
Ini sudah tengah malam bukankah tak apa jika aku keluar diam-diam. Tak akan ada yang melihatku. Semua orang sedang terbuai oleh mimpi mereka. Jadi kemungkinan aku ketahuan sangat kecil.
……..
Tok tok tok tok tok
Aku menggeliatkan tubuhku saat mendengar ketukan pintu dan suara ibu yang memanggilku di balik pintu. Aku melihat kearah jendela. Bahkan mataharipun belum muncul. Bagaimana bisa dia menggangguku dipagi buta seperti ini. Apa dia tidak tahu jam berapa aku tidur semalam. Ah, tentu saja tidak.
Ceklek
Aku membuka pintu kamarku. Kulihat ayah dan ibu di depan pintu kamarku berpakaian begitu rapi.
“kami akan melakukan perjalanan bisnis selama seminggu. Kuharap kau tetap menjadi gadis baik seperti biasa sampai kami kembali!” kata ibu.
Lihatlah seperti apa mereka berpamitan padaku. Mereka begitu mendeskriminasiku. Mereka begitu lembut kepada adikku. Tapi kepadaku? Mereka hanya mengatakan hal bodoh seperti itu.
“Haruskah kalian pergi?” Tanyaku khawatir.
Ya, bagaimanapun juga aku mengkhawatirkan mereka. Aku takut terjadi apa-apa pada mereka
“tenanglah, harusnya kami yang mengkhawatirkanmu.” Sambung ayahku.
“Oh, baiklah pergilah selama kalian mau.” Kataku kemudian.
………
Adikku mengetok kamarku. Seperti biasa aku membiarkannya. Dia mengatakan kapal orang tua kami mengalami kecelakaan. Adikku menangis dibalik pintu kamarku. Dia memintaku untuk keluar. Tapi aku tak mempedulikannya. Aku sudah terbiasa sendiri, aku benci harus dibertemu dengannya dan diganggu olehnya.
Orang tuaku telah tiada. Bukankan negeri ini butuh seorang ratu. Hari pengangkatanku sebagai seorang ratu masih dua tahun lagi. Tapi siapa yang peduli. Hal itu hanya berlaku jika raja dan ratu masih hidup. Sedangkan sekarang akulah yang memiliki jabatan tertinggi. Jadi mereka harus patuh padaku.
Aku keluar dari kamarku setelah adikku pergi. Aku bertemu salah seorang penghuni istana. Aku memerintahkan padanya untuk mempersiapkan sebuat pesta pengangkatan ratu besok.
…….
Aku mematut diriku di cermin. Aku bersiap untuk keluar. Hal yang sangat aku impikan selama bertahun-tahun. Masyarakat sudah pada berkumpul di aula istana saat aku keluar.
Seorang pria tua mendekati untuk melakukan upacara pengangkatanku sebagai seorang ratu. Dia memberiku dua benda yang entah aku tak tau namanya yang jelas benda itu adalah symbol kerajaan kami. Tentu aku tidak mebekukan benda itu. Aku tidak dalam keadaan tertekan, ketakutan ataupun sedih. Entalah aku sudah kehilangan emosi itu sejak lama.
Usai upacara pengangkatanku adalah pesta dansa. Adikku medekat, berusaha mengajakku bicara. Aku mengacuhkannya. Sampai ada seorang pria yang medekati kami dan mengajakku berdansa. Ini kesempatanku untuk mengusir adikku. Aku menyuruh pria itu untuk berdansa saja dengan adikku.
Aku melihat seluruh ruangan sambil mebalas sapaan dari masyarakat yang mengucapkan selamat padaku. Pesta ini sangat meriah. Tapi aku merasa ada yang kurang. Sepertinya aku harus membuatnya lebih meriah lagi.
Tiba-tiba adikku mendekatiku bersama seorang pria tampan yang belum pernah aku lihat sama sekali. Adikku mengatakan dia akan menikah dengan pria tersebut dan mengajak sang pria beserta keluarganya untuk tinggal disini.
“tidak! Aku tidak akan mengizikan. Tidak aka nada pernikahan dan tidak akan ada yang tinggal disini!” kataku tegas.
Dia pikir, dia siapa bisa memutuskan sesuatu dengan seenaknya. Aku ratu disini dan aku yang berhak memutuskan apapun.
Adikku protes kepadaku dia tidak bisa menerima keputusanku. Dia tak henti bicara membuatku semakin marah padanya. Aku mengarahkan kekuatanku padanya, membuatnya terjatuh dilantai dan rambutnya berubah putih.
Salju turun di istana ini semakin lama semakin kencang. Aku membekukan tembok, pintu dan jendela istana ini. Masyarakat mulai ketakutan. Mereka berlarian mencari jalan keluar. Tapi sia-sia mereka tidak akan pernah keluar dari ruangan ini. Mereka mengatakan aku moster sama seperti yang orang tuaku katakan.
“Kalian tahu, aku juga seorang manusia. Hanya karena kekuatanku kalian semua menganggapku monster. Orang tuaku mengurungku dan aku tak diizikan melakukan apapun.” Kataku lalu perpaling mendekati adikku.
“Dan kau adikku kecilku. Kau tau ini semua karenamu. Kau yang memaksaku mengunakan kekuatanku. Tapi ketika sesuatu terjadi pada. Kenapa harus aku yang bertanggu jawab? Kau mengjhancurkan seluruh hidupku. Aku menanggung kesalahan yang kau lakukan seorang diri. Sedangkan kau. Kau menikmati masa kecilmu, kau mendapatkan apapun yang kau inginkan. Mendapatkan kasih sayang orang tua kita, mendapat perhatian dari seluruh masyarakat dan sekarang mendapat cinta dari seorang pangeran.” Lanjut sambil menatap adikku yang sudah sekarat di lantai.
“ah, harusnya ayah dan ibu melakukan perjalanan sejak dulu jadi aku bisa merusak kapalnya dan melakukan ini sejak dulu.” Kataku yang mulai mengangkat tanganku dan membekukan semua orang disini.
…………..
Aku memegang perutku kelaparan. Aku memanggil para boneka salju ciptaanku. Menyuruh mereka menyiapkan makanan untukku. Aku mendekat kepatung es lalu mencairkannya. Para boneka salju langsung menangkap sesuatu yang telah kucairkan tadi dan memasknya menjadi sup daging yang lezat.
Selesai makan aku berjalan mengilingi istana. Melihat para pelayanku. Makhluk kecil nan lembut. Tak ada manusia disini. Yang ada hanya patung es dan mereka akan berubah lagi jadi manusia ketika aku lapar.
Awalnya aku juga seorang manusia sedingin apapun aku, aku juga masih punya hati. tapi kalian yang mebuat hatiku mebeku.ketidak adilan Kalianlah yang membuatku menjadi moster. Yang aku tahu, aku menjadi monster bukan karena kekuatanku tapi karena kalian. Dan setelah kalian tak bisa melakukan apapun. lihatlah tempat ini berubah lebih indah dan damai. Aku melihat seluruh patung es dihadapanku dan tersenyum penuh kemenangan.

Selasa, 23 Mei 2017

Dark princess : Murderella



Murderella
         Aku terbangun dari tidurku saat mendengar ada seorang pria bertamu dirumahku pagi-pagi buta seperti ini. Aku turun dari ranjangku mengintip melalui pintu kamarku. Terlihat ibu dan kedua saudara tiriku menangis dan sayup-sayup terdengar bahwa kapal yang ditumpangi ayahku subuh tadi terhempas badai dan tenggelam. Aku keluar dari kamarku untuk memastikan aku tidak salah dengar tepat saat pria itu berpamitan untuk pergi. Mereka bertiga tersenyum menatapku sambil menghapus air mata mereka. Ahh, ternyata mereka sedang berakting tadi. Aku sudah tau dari dulu mereka tidak pernah mencintai ayahku. mereka hanya mengincar hartanya. Dan mendengar tentang berita kematian ayahku aku yakin mereka sedang sangat bahagia sekarang.
Akhirnya mereka bisa membuka topeng yang selalu mereka gunakan ketika ayahku masih hidup. Mereka mulai memperlakukanku dengan kasar. Menyuruhku melakukan seluruh pekerjaan rumah, mengusirku dari kamar yang sejak kecil telahku tempati, memaksaku tinggal diloteng tidur bersama tikus-tikus menjijikan dan hewan pengerat lainnya, bahkan mereka tidak melihatku sebagai manusia.
Lebih parah lagi mereka melarangku makan menggunakan tanganku layaknya manusia. Mereka memberiku makan sayuran busuk hasil ladang kami yang tersisa jika tidak laku dijual dipasar. Jika aku beruntung aku bisa mendapat butir-butir nasi dari piring sisa mereka makan.

….

          Saat aku sedang menyapu halaman rumah, datang seorang pria menghampiriku yang mengaku sebagai utusan kerajan untuk mengundangku datang ke pesta dansa di istana malam ini. seluruh gadis dipenjuru negeri ini sih tepatnya. Saudara tiriku tiba-tiba datang membentakku menyuruhku masuk kedalam rumah. Lalu dia melanjutkan ngobrol dengan si utusan kerajaan tadi.
        Malam ini ada pesta, aku harus datang aku belum pernah diundang dalam sebuah pesta dan aku harus ikut ini pesta pertamaku. Saudara tiriku berlari masuk ke dalam rumah sambil berteriak memanggil ibu dan saudaranya memberitahu tentang undangan pesta dansa ke ibu dan saudaranya.
Aku melihat mereka bersiap untuk pergi membeli gaun baru untuk pesta dansa nanti malam. Dengan keberanian yang sedikit ku paksa aku mengatakan pada mereka bahwa aku juga ingin ikut ke pesta dansa itu. Yah, harusnya aku tau dengan jelas mereka pasti akan melarangku dan menghinaku. Menyeretku kedepan cermin “Lihatlah bahkah kau tak pantas disebut manusia, jangan bermimpi untuk bisa bertemu pangeran, jangankan pangeran bahkan penjaga istanapun akan muntah melihatmu”. Kata salah satu saudara tiriku. Aku melihat kedepan cermin wajah kusam, kulit kering, rambut kusut dan pakaian yang compang-camping. Mereka benar-benar berhasil menjadikanku terlihat tidak seperti manusia.
Aku pergi kebelakang rumah masuk kandang ternak milik ayahku yang kini jelas telah menjadi hak milik ibu tiriku. Memberi makan para ternak dan membersihkan kotoran mereka. Berusaha mengalihkan perhatianku tentang pesta dansa nanti malam tapi gagal.
Aku harus ikut pesta…
Aku harus ikut pesta…
Aku harus ikut pesta…
Hanya itu satu-satunya yang ada dikepalaku. Aku duduk dipojokan terdiam cukup lama sampai aku lihat cahaya yang cukup menyilaukan masuk melalui jendela.

….

        Aku masuk kedapur bersiap untuk memasak makanan untuk ibu dan kedua saudara tiriku. Aku momotong labu yang baru aku dapat tadi. Aku berencana ingin membuatkan sup labu untuk mereka.
         Beberapa menit kemudian aku melihat mereka masuk rumah tepat saat aku selesai menata meja makan. Aku melihat barang belanjaan mereka yang begitu banyak dan melihat ekspresi kelelahan mereka. Aku langsung mengambil alih barang belajaan  membawakan kekamar mereka masing-masing sambil melirik mereka yang telah duduk meja makan bergegas menyantap hidangan yang sudah aku siapkan.
         Aku kembali kedapur melihat mereka yang sedang makan dengan lahap. Jika biasanya aku melihat mereka makan dengan sedih dan berharap ada sedikit saja makanan yang mereka sisakan untukku. Sekarang aku melihat mereka dengan sedikit tersenyum berharap mereka menyukai masakanku dan menghabiskannya tanpa sisa.
        “Pesta akan segera dimulai kenapa kalian lama sekali bangunnya aku sudah menunggu sangat lama,” kataku ketika melihat ibu dan kedua saudara tiriku membuka mata sambil menggerakkan kedua tangan dan kakinya yang terikat.
      “Hai ibu dan kakak-kakakku tersayang kalian benar aku tidak pantas ikut pesta dansa yang diadakan diistana jadi aku menyiapkan ini semua. Aku ingin berpesta bersama kalian.”kataku sambil melihat mereka satu per satu.  Aku mengeluarkan sepatu kaca pemberian ibu peri sesosok cahaya yang menemuiku tadi dia juga menawariku labu yang bisa beerubah yang bisa berubah menjadi kereta kencana tapi aku menolaknya. kata ibu peri tidak semua yang cantik dan bercahaya itu baik dia contohnya. aku bahagia bertemu dengannya aku juga setuju dengan semua kata-katanya. Jadi dia menukar labu yang ditawarkan tadi dengan labu yang sudah aku masuk untuk makanan ibu dan saudara tiriku. Yang menghilangkan kesadaran beberapa saat.

        “bagaimana jika kita mulai pestanya sekarang.” Kataku sambil mematahkan sepatu kacaku dan berjalan mendekati ibuku. Aku mendekatkan bagian ujung tertajam dari sepatu kaca yang kupegang kepipi ibu tiriku. mendorong masuk kepori-pori kulitnya lalu menarik kebawah secara perlahan aku melihat cairan warna merah mulai keluar dari bekas goresanku.
        “Wajah inilah yang telah menggoda ayahku,” kataku. Ohh, lihat kau semakin cantik dengan warna merah yang mulai memenuhi wajahmu itu ibu dan aku akan membuatnya lebih cantik lagi agar ayahku semakin meancintaimu.” Lanjutku sambil beralih kepipi sebelahnya dan dahi.
       Aku beralih kesaudara tiriku, melihat wajahnya yang ketakutan air matanya mulai deras. Aku sangat suka melihat ekspresinya seperti itu aku belum pernah melihatnya aku sangat menikmatinya. Aku menancapkan sepatu kacaku tadi kedekat mulutnya lalu menarik garis lurus sampai telinga. Lihatlah dia seperti tersenyum sangat lebar. Itu mulut yang selalu menghinaku dengan begini bukankah aku memberinya kesempatan untuk brbicara dan menghinaku lebih banyak.
        Aku melihat saudara tiriku satunya yang sejak tadi berteriak-triak sampai terisak. sepertinya dia tidak sabar menunggu gilirannya.  Aku mendekatkan sepatu kacaku kematanya. Mata yang selalu melihatku dengan sinis tatapan mata yang selalu menghinaku. Aku berusaha mencokel matanya mengeluarkan biji matanya.
“Bu, aku lapar,”kataku sambil memegang perutku.
“Bagaimana dengan kalian?” lanjutku yang sudah mngambil pisau pemotong daging dan berjalan kearah mereka.
          Terimakasih ibu dan saudara-saudaraku kalian benar lebih baik aku tidak pergi kepesta dansa di istana. Karena pestaku disini lebih menyenangkan. Sudah lama aku tidak makan daging panggang yang begitu banyak. Lagipula untuk apa datang kepesta dansa bertemu dengan pangeran mesum yang akan meraba seluruh tubuh para gadis disana dengan alibi berdansa diiringi musik klasik nan romantis.

frozter

FROZTER Terlahir sebagai seorang tuan putri di sebuah kerajaan besar nan makmur ditambah lagi sebuah anugrah kekuatan yang luar biasa...