FROZTER
Terlahir sebagai seorang tuan putri di sebuah
kerajaan besar nan makmur ditambah lagi sebuah anugrah kekuatan yang luar
biasa. Bahkan beberapa waktu lagi aku
akan menyandang gelar sebagai seorang ratu. Bukankan terlihat begitu sempurna
hidupku? Tapi siapa sangka kesempurnaan yang mampu membuat seluruh wanita di
dunia ini iri padaku justru dianggap sebuah kutukan bagi orang tuaku.
Sejak
kecil orang tuaku mengurungku di kamar dan melarangku berinteraksi dengan
siapapun hanya karena sebuah kesalahan kecil yang tak sengaja aku lakukakan.
Aku masih ingat dengan jelas kejadian hari itu. Hari dimana adik perempuanku
satu-satunya memaksaku bermain salju bersamanya padahal kala itu adalah musim
panas. Bagaimana bisa? Ya, itulah kekuatan maha dasyatku yang membuatku
dianggap monster oleh orang tuaku.
Aku
mengikuti kemauan adikku yaitu membuat salju diruangan bagian paling belakang istana.
Bagaimana pun juga aku masih anak-anak saat itu. Saat-saat bermain adalah
pekerjaan utama kami. sampai aku melakukan sebuah kesalahan, kata orang tuaku
tentunya. karena aku tidak merasa aku bersalah saat itu. Adikku yang memaksa. Aku
mengarahkan kekuatanku ke adikku yang membuatnya kesakitan lalu pingsan.
Sejak saat itu orang tuaku membatasi ruang
gerakku. Aku kehilangan masa kecilku, aku kehilangan kebebasanku dan aku
kehilangan keluargaku. Aku tak pernah bertemu lagi dengan adikku. Orang tuaku
mengunjungiku hanya beberapa kali itupun untuk memperingatiku tentang aku yang
harus mengendalikan kekuatanku. apakah mereka bisa disebut keluarga? kurasa
tidak.
Aku kesepian, aku ketakutan, aku butuh
seseorang. Tapi tak ada satupun yang mengerti aku. Orang tuaku memberiku
kesempatan untuk keluar kamar. Mereka selalu berpikir aku berbahaya, aku akan
menyakiti semua orang. Aku diperlakukan begitu tidak adil.
…..
Aku mengintip melalui lubang kunci kamarku. Aku
melihat adikku yang bisa berlari kesana-kemari, bernyanyi, dan bercanda dengan
kedua orang tuaku. Sedangkan aku disini. Tak ada yang mau mengajakku berbicara
bahkan aku tak akan heran jika mereka tak tahu bahwa ada aku disini.
Samar-samar aku mendengar percakapan adikku
dengan kedua orang tuaku. Orang tuaku mengatakan besok mereka berdua, ayah dan
ibukku haraus berlayar ke pulau sebrang untuk urusan bisnis.
Aku beranjak dari depan pintu menuju ranjangku.
Aku tak peduli dengan apa yang akan mereka lakukan. Aku hanya ingin segera
keluar dari tempat ini. Tempat yang lebih mirip penjara dibandingkan kamar
seorang tuan putri. Calon ratu negeri ini. Karena bagaimanapun juga aku seorang
anak pertama. Aku yang berhak menyandang gelar ratu.
Aku mecoba memejamkan mataku tapi aku tak juga
mampu terlelap. Aku membolak-balikan badanku mencari posisi nyaman. Tapi tetap
saja aku masih tetap terjaga. Pikiranku sedang kalut. Aku perlu melalakukan
sesuatu.
Aku melihat keluar lalu berjalan menuju jendela
kamarku. Aku berdiri sejenak didekat jendela. Betapa menyenangkannya jika
keluar dari sini. Merasakan hembusan angin malam. Berdiri dibawah
bintang-bintang.
Ini sudah tengah malam bukankah tak apa jika
aku keluar diam-diam. Tak akan ada yang melihatku. Semua orang sedang terbuai
oleh mimpi mereka. Jadi kemungkinan aku ketahuan sangat kecil.
……..
Tok tok tok tok tok
Aku menggeliatkan tubuhku saat mendengar
ketukan pintu dan suara ibu yang memanggilku di balik pintu. Aku melihat kearah
jendela. Bahkan mataharipun belum muncul. Bagaimana bisa dia menggangguku
dipagi buta seperti ini. Apa dia tidak tahu jam berapa aku tidur semalam. Ah,
tentu saja tidak.
Ceklek
Aku membuka pintu kamarku. Kulihat ayah dan ibu
di depan pintu kamarku berpakaian begitu rapi.
“kami akan melakukan perjalanan bisnis selama
seminggu. Kuharap kau tetap menjadi gadis baik seperti biasa sampai kami kembali!”
kata ibu.
Lihatlah seperti apa mereka berpamitan padaku.
Mereka begitu mendeskriminasiku. Mereka begitu lembut kepada adikku. Tapi
kepadaku? Mereka hanya mengatakan hal bodoh seperti itu.
“Haruskah kalian pergi?” Tanyaku khawatir.
Ya, bagaimanapun juga aku mengkhawatirkan
mereka. Aku takut terjadi apa-apa pada mereka
“tenanglah, harusnya kami yang
mengkhawatirkanmu.” Sambung ayahku.
“Oh, baiklah pergilah selama kalian mau.”
Kataku kemudian.
………
Adikku mengetok kamarku. Seperti biasa aku
membiarkannya. Dia mengatakan kapal orang tua kami mengalami kecelakaan. Adikku
menangis dibalik pintu kamarku. Dia memintaku untuk keluar. Tapi aku tak
mempedulikannya. Aku sudah terbiasa sendiri, aku benci harus dibertemu
dengannya dan diganggu olehnya.
Orang tuaku telah tiada. Bukankan negeri ini
butuh seorang ratu. Hari pengangkatanku sebagai seorang ratu masih dua tahun
lagi. Tapi siapa yang peduli. Hal itu hanya berlaku jika raja dan ratu masih
hidup. Sedangkan sekarang akulah yang memiliki jabatan tertinggi. Jadi mereka
harus patuh padaku.
Aku keluar dari kamarku setelah adikku pergi.
Aku bertemu salah seorang penghuni istana. Aku memerintahkan padanya untuk
mempersiapkan sebuat pesta pengangkatan ratu besok.
…….
Aku mematut diriku di cermin. Aku bersiap untuk
keluar. Hal yang sangat aku impikan selama bertahun-tahun. Masyarakat sudah
pada berkumpul di aula istana saat aku keluar.
Seorang pria tua mendekati untuk melakukan
upacara pengangkatanku sebagai seorang ratu. Dia memberiku dua benda yang entah
aku tak tau namanya yang jelas benda itu adalah symbol kerajaan kami. Tentu aku
tidak mebekukan benda itu. Aku tidak dalam keadaan tertekan, ketakutan ataupun
sedih. Entalah aku sudah kehilangan emosi itu sejak lama.
Usai upacara pengangkatanku adalah pesta dansa.
Adikku medekat, berusaha mengajakku bicara. Aku mengacuhkannya. Sampai ada
seorang pria yang medekati kami dan mengajakku berdansa. Ini kesempatanku untuk
mengusir adikku. Aku menyuruh pria itu untuk berdansa saja dengan adikku.
Aku melihat seluruh ruangan sambil mebalas
sapaan dari masyarakat yang mengucapkan selamat padaku. Pesta ini sangat
meriah. Tapi aku merasa ada yang kurang. Sepertinya aku harus membuatnya lebih
meriah lagi.
Tiba-tiba adikku mendekatiku bersama seorang
pria tampan yang belum pernah aku lihat sama sekali. Adikku mengatakan dia akan
menikah dengan pria tersebut dan mengajak sang pria beserta keluarganya untuk
tinggal disini.
“tidak! Aku tidak akan mengizikan. Tidak aka
nada pernikahan dan tidak akan ada yang tinggal disini!” kataku tegas.
Dia pikir, dia siapa bisa memutuskan sesuatu
dengan seenaknya. Aku ratu disini dan aku yang berhak memutuskan apapun.
Adikku protes kepadaku dia tidak bisa menerima
keputusanku. Dia tak henti bicara membuatku semakin marah padanya. Aku mengarahkan
kekuatanku padanya, membuatnya terjatuh dilantai dan rambutnya berubah putih.
Salju turun di istana ini semakin lama semakin
kencang. Aku membekukan tembok, pintu dan jendela istana ini. Masyarakat mulai
ketakutan. Mereka berlarian mencari jalan keluar. Tapi sia-sia mereka tidak
akan pernah keluar dari ruangan ini. Mereka mengatakan aku moster sama seperti
yang orang tuaku katakan.
“Kalian tahu, aku juga seorang manusia. Hanya
karena kekuatanku kalian semua menganggapku monster. Orang tuaku mengurungku
dan aku tak diizikan melakukan apapun.” Kataku lalu perpaling mendekati adikku.
“Dan kau adikku kecilku. Kau tau ini semua
karenamu. Kau yang memaksaku mengunakan kekuatanku. Tapi ketika sesuatu terjadi
pada. Kenapa harus aku yang bertanggu jawab? Kau mengjhancurkan seluruh
hidupku. Aku menanggung kesalahan yang kau lakukan seorang diri. Sedangkan kau.
Kau menikmati masa kecilmu, kau mendapatkan apapun yang kau inginkan.
Mendapatkan kasih sayang orang tua kita, mendapat perhatian dari seluruh
masyarakat dan sekarang mendapat cinta dari seorang pangeran.” Lanjut sambil
menatap adikku yang sudah sekarat di lantai.
“ah, harusnya ayah dan ibu melakukan perjalanan
sejak dulu jadi aku bisa merusak kapalnya dan melakukan ini sejak dulu.” Kataku
yang mulai mengangkat tanganku dan membekukan semua orang disini.
…...
Aku memegang perutku kelaparan. Aku memanggil
para boneka salju ciptaanku. Menyuruh mereka menyiapkan makanan untukku. Aku
mendekat kepatung es lalu mencairkannya. Para boneka salju langsung menangkap
sesuatu yang telah kucairkan tadi dan memasknya menjadi sup daging yang lezat.
Selesai makan aku berjalan mengilingi istana.
Melihat para pelayanku. Makhluk kecil nan lembut. Tak ada manusia disini. Yang
ada hanya patung es dan mereka akan berubah lagi jadi manusia ketika aku lapar.
Awalnya aku juga seorang manusia sedingin
apapun aku, aku juga masih punya hati. tapi kalian yang mebuat hatiku
mebeku.ketidak adilan Kalianlah yang membuatku menjadi moster. Yang aku tahu,
aku menjadi monster bukan karena kekuatanku tapi karena kalian. Dan setelah
kalian tak bisa melakukan apapun. lihatlah tempat ini berubah lebih indah dan
damai. Aku melihat seluruh patung es dihadapanku dan tersenyum penuh
kemenangan.
Aku
mengikuti kemauan adikku yaitu membuat salju diruangan bagian paling belakang istana.
Bagaimana pun juga aku masih anak-anak saat itu. Saat-saat bermain adalah
pekerjaan utama kami. sampai aku melakukan sebuah kesalahan, kata orang tuaku
tentunya. karena aku tidak merasa aku bersalah saat itu. Adikku yang memaksa. Aku
mengarahkan kekuatanku ke adikku yang membuatnya kesakitan lalu pingsan.
Sejak saat itu orang tuaku membatasi ruang
gerakku. Aku kehilangan masa kecilku, aku kehilangan kebebasanku dan aku
kehilangan keluargaku. Aku tak pernah bertemu lagi dengan adikku. Orang tuaku
mengunjungiku hanya beberapa kali itupun untuk memperingatiku tentang aku yang
harus mengendalikan kekuatanku. apakah mereka bisa disebut keluarga? kurasa
tidak.
Aku kesepian, aku ketakutan, aku butuh
seseorang. Tapi tak ada satupun yang mengerti aku. Orang tuaku memberiku
kesempatan untuk keluar kamar. Mereka selalu berpikir aku berbahaya, aku akan
menyakiti semua orang. Aku diperlakukan begitu tidak adil.
…..
Aku mengintip melalui lubang kunci kamarku. Aku
melihat adikku yang bisa berlari kesana-kemari, bernyanyi, dan bercanda dengan
kedua orang tuaku. Sedangkan aku disini. Tak ada yang mau mengajakku berbicara
bahkan aku tak akan heran jika mereka tak tahu bahwa ada aku disini.
Samar-samar aku mendengar percakapan adikku
dengan kedua orang tuaku. Orang tuaku mengatakan besok mereka berdua, ayah dan
ibukku haraus berlayar ke pulau sebrang untuk urusan bisnis.
Aku beranjak dari depan pintu menuju ranjangku.
Aku tak peduli dengan apa yang akan mereka lakukan. Aku hanya ingin segera
keluar dari tempat ini. Tempat yang lebih mirip penjara dibandingkan kamar
seorang tuan putri. Calon ratu negeri ini. Karena bagaimanapun juga aku seorang
anak pertama. Aku yang berhak menyandang gelar ratu.
Aku mecoba memejamkan mataku tapi aku tak juga
mampu terlelap. Aku membolak-balikan badanku mencari posisi nyaman. Tapi tetap
saja aku masih tetap terjaga. Pikiranku sedang kalut. Aku perlu melalakukan
sesuatu.
Aku melihat keluar lalu berjalan menuju jendela
kamarku. Aku berdiri sejenak didekat jendela. Betapa menyenangkannya jika
keluar dari sini. Merasakan hembusan angin malam. Berdiri dibawah
bintang-bintang.
Ini sudah tengah malam bukankah tak apa jika
aku keluar diam-diam. Tak akan ada yang melihatku. Semua orang sedang terbuai
oleh mimpi mereka. Jadi kemungkinan aku ketahuan sangat kecil.
……..
Tok tok tok tok tok
Aku menggeliatkan tubuhku saat mendengar
ketukan pintu dan suara ibu yang memanggilku di balik pintu. Aku melihat kearah
jendela. Bahkan mataharipun belum muncul. Bagaimana bisa dia menggangguku
dipagi buta seperti ini. Apa dia tidak tahu jam berapa aku tidur semalam. Ah,
tentu saja tidak.
Ceklek
Aku membuka pintu kamarku. Kulihat ayah dan ibu
di depan pintu kamarku berpakaian begitu rapi.
“kami akan melakukan perjalanan bisnis selama
seminggu. Kuharap kau tetap menjadi gadis baik seperti biasa sampai kami kembali!”
kata ibu.
Lihatlah seperti apa mereka berpamitan padaku.
Mereka begitu mendeskriminasiku. Mereka begitu lembut kepada adikku. Tapi
kepadaku? Mereka hanya mengatakan hal bodoh seperti itu.
“Haruskah kalian pergi?” Tanyaku khawatir.
Ya, bagaimanapun juga aku mengkhawatirkan
mereka. Aku takut terjadi apa-apa pada mereka
“tenanglah, harusnya kami yang
mengkhawatirkanmu.” Sambung ayahku.
“Oh, baiklah pergilah selama kalian mau.”
Kataku kemudian.
………
Adikku mengetok kamarku. Seperti biasa aku
membiarkannya. Dia mengatakan kapal orang tua kami mengalami kecelakaan. Adikku
menangis dibalik pintu kamarku. Dia memintaku untuk keluar. Tapi aku tak
mempedulikannya. Aku sudah terbiasa sendiri, aku benci harus dibertemu
dengannya dan diganggu olehnya.
Orang tuaku telah tiada. Bukankan negeri ini
butuh seorang ratu. Hari pengangkatanku sebagai seorang ratu masih dua tahun
lagi. Tapi siapa yang peduli. Hal itu hanya berlaku jika raja dan ratu masih
hidup. Sedangkan sekarang akulah yang memiliki jabatan tertinggi. Jadi mereka
harus patuh padaku.
Aku keluar dari kamarku setelah adikku pergi.
Aku bertemu salah seorang penghuni istana. Aku memerintahkan padanya untuk
mempersiapkan sebuat pesta pengangkatan ratu besok.
…….
Aku mematut diriku di cermin. Aku bersiap untuk
keluar. Hal yang sangat aku impikan selama bertahun-tahun. Masyarakat sudah
pada berkumpul di aula istana saat aku keluar.
Seorang pria tua mendekati untuk melakukan
upacara pengangkatanku sebagai seorang ratu. Dia memberiku dua benda yang entah
aku tak tau namanya yang jelas benda itu adalah symbol kerajaan kami. Tentu aku
tidak mebekukan benda itu. Aku tidak dalam keadaan tertekan, ketakutan ataupun
sedih. Entalah aku sudah kehilangan emosi itu sejak lama.
Usai upacara pengangkatanku adalah pesta dansa.
Adikku medekat, berusaha mengajakku bicara. Aku mengacuhkannya. Sampai ada
seorang pria yang medekati kami dan mengajakku berdansa. Ini kesempatanku untuk
mengusir adikku. Aku menyuruh pria itu untuk berdansa saja dengan adikku.
Aku melihat seluruh ruangan sambil mebalas
sapaan dari masyarakat yang mengucapkan selamat padaku. Pesta ini sangat
meriah. Tapi aku merasa ada yang kurang. Sepertinya aku harus membuatnya lebih
meriah lagi.
Tiba-tiba adikku mendekatiku bersama seorang
pria tampan yang belum pernah aku lihat sama sekali. Adikku mengatakan dia akan
menikah dengan pria tersebut dan mengajak sang pria beserta keluarganya untuk
tinggal disini.
“tidak! Aku tidak akan mengizikan. Tidak aka
nada pernikahan dan tidak akan ada yang tinggal disini!” kataku tegas.
Dia pikir, dia siapa bisa memutuskan sesuatu
dengan seenaknya. Aku ratu disini dan aku yang berhak memutuskan apapun.
Adikku protes kepadaku dia tidak bisa menerima
keputusanku. Dia tak henti bicara membuatku semakin marah padanya. Aku mengarahkan
kekuatanku padanya, membuatnya terjatuh dilantai dan rambutnya berubah putih.
Salju turun di istana ini semakin lama semakin
kencang. Aku membekukan tembok, pintu dan jendela istana ini. Masyarakat mulai
ketakutan. Mereka berlarian mencari jalan keluar. Tapi sia-sia mereka tidak
akan pernah keluar dari ruangan ini. Mereka mengatakan aku moster sama seperti
yang orang tuaku katakan.
“Kalian tahu, aku juga seorang manusia. Hanya
karena kekuatanku kalian semua menganggapku monster. Orang tuaku mengurungku
dan aku tak diizikan melakukan apapun.” Kataku lalu perpaling mendekati adikku.
“Dan kau adikku kecilku. Kau tau ini semua
karenamu. Kau yang memaksaku mengunakan kekuatanku. Tapi ketika sesuatu terjadi
pada. Kenapa harus aku yang bertanggu jawab? Kau mengjhancurkan seluruh
hidupku. Aku menanggung kesalahan yang kau lakukan seorang diri. Sedangkan kau.
Kau menikmati masa kecilmu, kau mendapatkan apapun yang kau inginkan.
Mendapatkan kasih sayang orang tua kita, mendapat perhatian dari seluruh
masyarakat dan sekarang mendapat cinta dari seorang pangeran.” Lanjut sambil
menatap adikku yang sudah sekarat di lantai.
“ah, harusnya ayah dan ibu melakukan perjalanan
sejak dulu jadi aku bisa merusak kapalnya dan melakukan ini sejak dulu.” Kataku
yang mulai mengangkat tanganku dan membekukan semua orang disini.
…………..
Aku memegang perutku kelaparan. Aku memanggil
para boneka salju ciptaanku. Menyuruh mereka menyiapkan makanan untukku. Aku
mendekat kepatung es lalu mencairkannya. Para boneka salju langsung menangkap
sesuatu yang telah kucairkan tadi dan memasknya menjadi sup daging yang lezat.
Selesai makan aku berjalan mengilingi istana.
Melihat para pelayanku. Makhluk kecil nan lembut. Tak ada manusia disini. Yang
ada hanya patung es dan mereka akan berubah lagi jadi manusia ketika aku lapar.
Awalnya aku juga seorang manusia sedingin
apapun aku, aku juga masih punya hati. tapi kalian yang mebuat hatiku
mebeku.ketidak adilan Kalianlah yang membuatku menjadi moster. Yang aku tahu,
aku menjadi monster bukan karena kekuatanku tapi karena kalian. Dan setelah
kalian tak bisa melakukan apapun. lihatlah tempat ini berubah lebih indah dan
damai. Aku melihat seluruh patung es dihadapanku dan tersenyum penuh
kemenangan.