Murderella
Aku terbangun dari tidurku saat
mendengar ada seorang pria bertamu dirumahku pagi-pagi buta seperti ini. Aku
turun dari ranjangku mengintip melalui pintu kamarku. Terlihat ibu dan kedua
saudara tiriku menangis dan sayup-sayup terdengar bahwa kapal yang ditumpangi
ayahku subuh tadi terhempas badai dan tenggelam. Aku keluar dari kamarku untuk
memastikan aku tidak salah dengar tepat saat pria itu berpamitan untuk pergi.
Mereka bertiga tersenyum menatapku sambil menghapus air mata mereka. Ahh,
ternyata mereka sedang berakting tadi. Aku sudah tau dari dulu mereka tidak
pernah mencintai ayahku. mereka hanya mengincar hartanya. Dan mendengar tentang
berita kematian ayahku aku yakin mereka sedang sangat bahagia sekarang.
Akhirnya
mereka bisa membuka topeng yang selalu mereka gunakan ketika ayahku masih
hidup. Mereka mulai memperlakukanku dengan kasar. Menyuruhku melakukan seluruh
pekerjaan rumah, mengusirku dari kamar yang sejak kecil telahku tempati,
memaksaku tinggal diloteng tidur bersama tikus-tikus menjijikan dan hewan
pengerat lainnya, bahkan mereka tidak melihatku sebagai manusia.
Lebih parah
lagi mereka melarangku makan menggunakan tanganku layaknya manusia. Mereka
memberiku makan sayuran busuk hasil ladang kami yang tersisa jika tidak laku
dijual dipasar. Jika aku beruntung aku bisa mendapat butir-butir nasi dari
piring sisa mereka makan.
….
Saat aku sedang menyapu halaman
rumah, datang seorang pria menghampiriku yang mengaku sebagai utusan kerajan
untuk mengundangku datang ke pesta dansa di istana malam ini. seluruh gadis
dipenjuru negeri ini sih tepatnya. Saudara tiriku tiba-tiba datang membentakku
menyuruhku masuk kedalam rumah. Lalu dia melanjutkan ngobrol dengan si utusan
kerajaan tadi.
Malam ini ada pesta, aku harus datang
aku belum pernah diundang dalam sebuah pesta dan aku harus ikut ini pesta
pertamaku. Saudara tiriku berlari masuk ke dalam rumah sambil berteriak
memanggil ibu dan saudaranya memberitahu tentang undangan pesta dansa ke ibu
dan saudaranya.
Aku melihat
mereka bersiap untuk pergi membeli gaun baru untuk pesta dansa nanti malam.
Dengan keberanian yang sedikit ku paksa aku mengatakan pada mereka bahwa aku
juga ingin ikut ke pesta dansa itu. Yah, harusnya aku tau dengan jelas mereka
pasti akan melarangku dan menghinaku. Menyeretku kedepan cermin “Lihatlah
bahkah kau tak pantas disebut manusia, jangan bermimpi untuk bisa bertemu
pangeran, jangankan pangeran bahkan penjaga istanapun akan muntah melihatmu”.
Kata salah satu saudara tiriku. Aku melihat kedepan cermin wajah kusam, kulit
kering, rambut kusut dan pakaian yang compang-camping. Mereka benar-benar
berhasil menjadikanku terlihat tidak seperti manusia.
Aku pergi
kebelakang rumah masuk kandang ternak milik ayahku yang kini jelas telah
menjadi hak milik ibu tiriku. Memberi makan para ternak dan membersihkan
kotoran mereka. Berusaha mengalihkan perhatianku tentang pesta dansa nanti
malam tapi gagal.
Aku harus
ikut pesta…
Aku harus
ikut pesta…
Aku harus
ikut pesta…
Hanya itu
satu-satunya yang ada dikepalaku. Aku duduk dipojokan terdiam cukup lama sampai
aku lihat cahaya yang cukup menyilaukan masuk melalui jendela.
….
Aku masuk kedapur bersiap untuk memasak
makanan untuk ibu dan kedua saudara tiriku. Aku momotong labu yang baru aku
dapat tadi. Aku berencana ingin membuatkan sup labu untuk mereka.
Beberapa menit kemudian aku melihat
mereka masuk rumah tepat saat aku selesai menata meja makan. Aku melihat barang
belanjaan mereka yang begitu banyak dan melihat ekspresi kelelahan mereka. Aku
langsung mengambil alih barang belajaan membawakan kekamar mereka masing-masing sambil
melirik mereka yang telah duduk meja makan bergegas menyantap hidangan yang
sudah aku siapkan.
Aku kembali kedapur melihat mereka
yang sedang makan dengan lahap. Jika biasanya aku melihat mereka makan dengan
sedih dan berharap ada sedikit saja makanan yang mereka sisakan untukku.
Sekarang aku melihat mereka dengan sedikit tersenyum berharap mereka menyukai
masakanku dan menghabiskannya tanpa sisa.
“Pesta akan segera dimulai kenapa
kalian lama sekali bangunnya aku sudah menunggu sangat lama,” kataku ketika
melihat ibu dan kedua saudara tiriku membuka mata sambil menggerakkan kedua
tangan dan kakinya yang terikat.
“Hai ibu dan kakak-kakakku tersayang
kalian benar aku tidak pantas ikut pesta dansa yang diadakan diistana jadi aku
menyiapkan ini semua. Aku ingin berpesta bersama kalian.”kataku sambil melihat
mereka satu per satu. Aku mengeluarkan
sepatu kaca pemberian ibu peri sesosok cahaya yang menemuiku tadi dia juga
menawariku labu yang bisa beerubah yang bisa berubah menjadi kereta kencana
tapi aku menolaknya. kata ibu peri tidak semua yang cantik dan bercahaya itu
baik dia contohnya. aku bahagia bertemu dengannya aku juga setuju dengan semua
kata-katanya. Jadi dia menukar labu yang ditawarkan tadi dengan labu yang sudah
aku masuk untuk makanan ibu dan saudara tiriku. Yang menghilangkan kesadaran
beberapa saat.
“bagaimana jika kita mulai pestanya sekarang.”
Kataku sambil mematahkan sepatu kacaku dan berjalan mendekati ibuku. Aku
mendekatkan bagian ujung tertajam dari sepatu kaca yang kupegang kepipi ibu
tiriku. mendorong masuk kepori-pori kulitnya lalu menarik kebawah secara
perlahan aku melihat cairan warna merah mulai keluar dari bekas goresanku.
“Wajah inilah yang telah menggoda
ayahku,” kataku. Ohh, lihat kau semakin cantik dengan warna merah yang mulai
memenuhi wajahmu itu ibu dan aku akan membuatnya lebih cantik lagi agar ayahku
semakin meancintaimu.” Lanjutku sambil beralih kepipi sebelahnya dan dahi.
Aku beralih kesaudara tiriku, melihat
wajahnya yang ketakutan air matanya mulai deras. Aku sangat suka melihat
ekspresinya seperti itu aku belum pernah melihatnya aku sangat menikmatinya.
Aku menancapkan sepatu kacaku tadi kedekat mulutnya lalu menarik garis lurus
sampai telinga. Lihatlah dia seperti tersenyum sangat lebar. Itu mulut yang
selalu menghinaku dengan begini bukankah aku memberinya kesempatan untuk
brbicara dan menghinaku lebih banyak.
Aku melihat saudara tiriku satunya yang
sejak tadi berteriak-triak sampai terisak. sepertinya dia tidak sabar menunggu
gilirannya. Aku mendekatkan sepatu
kacaku kematanya. Mata yang selalu melihatku dengan sinis tatapan mata yang selalu
menghinaku. Aku berusaha mencokel matanya mengeluarkan biji matanya.
“Bu, aku
lapar,”kataku sambil memegang perutku.
“Bagaimana
dengan kalian?” lanjutku yang sudah mngambil pisau pemotong daging dan berjalan
kearah mereka.
Terimakasih ibu dan saudara-saudaraku
kalian benar lebih baik aku tidak pergi kepesta dansa di istana. Karena pestaku
disini lebih menyenangkan. Sudah lama aku tidak makan daging panggang yang
begitu banyak. Lagipula untuk apa datang kepesta dansa bertemu dengan pangeran
mesum yang akan meraba seluruh tubuh para gadis disana dengan alibi berdansa
diiringi musik klasik nan romantis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar