Selasa, 23 Mei 2017

Dark princess : Murderella



Murderella
         Aku terbangun dari tidurku saat mendengar ada seorang pria bertamu dirumahku pagi-pagi buta seperti ini. Aku turun dari ranjangku mengintip melalui pintu kamarku. Terlihat ibu dan kedua saudara tiriku menangis dan sayup-sayup terdengar bahwa kapal yang ditumpangi ayahku subuh tadi terhempas badai dan tenggelam. Aku keluar dari kamarku untuk memastikan aku tidak salah dengar tepat saat pria itu berpamitan untuk pergi. Mereka bertiga tersenyum menatapku sambil menghapus air mata mereka. Ahh, ternyata mereka sedang berakting tadi. Aku sudah tau dari dulu mereka tidak pernah mencintai ayahku. mereka hanya mengincar hartanya. Dan mendengar tentang berita kematian ayahku aku yakin mereka sedang sangat bahagia sekarang.
Akhirnya mereka bisa membuka topeng yang selalu mereka gunakan ketika ayahku masih hidup. Mereka mulai memperlakukanku dengan kasar. Menyuruhku melakukan seluruh pekerjaan rumah, mengusirku dari kamar yang sejak kecil telahku tempati, memaksaku tinggal diloteng tidur bersama tikus-tikus menjijikan dan hewan pengerat lainnya, bahkan mereka tidak melihatku sebagai manusia.
Lebih parah lagi mereka melarangku makan menggunakan tanganku layaknya manusia. Mereka memberiku makan sayuran busuk hasil ladang kami yang tersisa jika tidak laku dijual dipasar. Jika aku beruntung aku bisa mendapat butir-butir nasi dari piring sisa mereka makan.

….

          Saat aku sedang menyapu halaman rumah, datang seorang pria menghampiriku yang mengaku sebagai utusan kerajan untuk mengundangku datang ke pesta dansa di istana malam ini. seluruh gadis dipenjuru negeri ini sih tepatnya. Saudara tiriku tiba-tiba datang membentakku menyuruhku masuk kedalam rumah. Lalu dia melanjutkan ngobrol dengan si utusan kerajaan tadi.
        Malam ini ada pesta, aku harus datang aku belum pernah diundang dalam sebuah pesta dan aku harus ikut ini pesta pertamaku. Saudara tiriku berlari masuk ke dalam rumah sambil berteriak memanggil ibu dan saudaranya memberitahu tentang undangan pesta dansa ke ibu dan saudaranya.
Aku melihat mereka bersiap untuk pergi membeli gaun baru untuk pesta dansa nanti malam. Dengan keberanian yang sedikit ku paksa aku mengatakan pada mereka bahwa aku juga ingin ikut ke pesta dansa itu. Yah, harusnya aku tau dengan jelas mereka pasti akan melarangku dan menghinaku. Menyeretku kedepan cermin “Lihatlah bahkah kau tak pantas disebut manusia, jangan bermimpi untuk bisa bertemu pangeran, jangankan pangeran bahkan penjaga istanapun akan muntah melihatmu”. Kata salah satu saudara tiriku. Aku melihat kedepan cermin wajah kusam, kulit kering, rambut kusut dan pakaian yang compang-camping. Mereka benar-benar berhasil menjadikanku terlihat tidak seperti manusia.
Aku pergi kebelakang rumah masuk kandang ternak milik ayahku yang kini jelas telah menjadi hak milik ibu tiriku. Memberi makan para ternak dan membersihkan kotoran mereka. Berusaha mengalihkan perhatianku tentang pesta dansa nanti malam tapi gagal.
Aku harus ikut pesta…
Aku harus ikut pesta…
Aku harus ikut pesta…
Hanya itu satu-satunya yang ada dikepalaku. Aku duduk dipojokan terdiam cukup lama sampai aku lihat cahaya yang cukup menyilaukan masuk melalui jendela.

….

        Aku masuk kedapur bersiap untuk memasak makanan untuk ibu dan kedua saudara tiriku. Aku momotong labu yang baru aku dapat tadi. Aku berencana ingin membuatkan sup labu untuk mereka.
         Beberapa menit kemudian aku melihat mereka masuk rumah tepat saat aku selesai menata meja makan. Aku melihat barang belanjaan mereka yang begitu banyak dan melihat ekspresi kelelahan mereka. Aku langsung mengambil alih barang belajaan  membawakan kekamar mereka masing-masing sambil melirik mereka yang telah duduk meja makan bergegas menyantap hidangan yang sudah aku siapkan.
         Aku kembali kedapur melihat mereka yang sedang makan dengan lahap. Jika biasanya aku melihat mereka makan dengan sedih dan berharap ada sedikit saja makanan yang mereka sisakan untukku. Sekarang aku melihat mereka dengan sedikit tersenyum berharap mereka menyukai masakanku dan menghabiskannya tanpa sisa.
        “Pesta akan segera dimulai kenapa kalian lama sekali bangunnya aku sudah menunggu sangat lama,” kataku ketika melihat ibu dan kedua saudara tiriku membuka mata sambil menggerakkan kedua tangan dan kakinya yang terikat.
      “Hai ibu dan kakak-kakakku tersayang kalian benar aku tidak pantas ikut pesta dansa yang diadakan diistana jadi aku menyiapkan ini semua. Aku ingin berpesta bersama kalian.”kataku sambil melihat mereka satu per satu.  Aku mengeluarkan sepatu kaca pemberian ibu peri sesosok cahaya yang menemuiku tadi dia juga menawariku labu yang bisa beerubah yang bisa berubah menjadi kereta kencana tapi aku menolaknya. kata ibu peri tidak semua yang cantik dan bercahaya itu baik dia contohnya. aku bahagia bertemu dengannya aku juga setuju dengan semua kata-katanya. Jadi dia menukar labu yang ditawarkan tadi dengan labu yang sudah aku masuk untuk makanan ibu dan saudara tiriku. Yang menghilangkan kesadaran beberapa saat.

        “bagaimana jika kita mulai pestanya sekarang.” Kataku sambil mematahkan sepatu kacaku dan berjalan mendekati ibuku. Aku mendekatkan bagian ujung tertajam dari sepatu kaca yang kupegang kepipi ibu tiriku. mendorong masuk kepori-pori kulitnya lalu menarik kebawah secara perlahan aku melihat cairan warna merah mulai keluar dari bekas goresanku.
        “Wajah inilah yang telah menggoda ayahku,” kataku. Ohh, lihat kau semakin cantik dengan warna merah yang mulai memenuhi wajahmu itu ibu dan aku akan membuatnya lebih cantik lagi agar ayahku semakin meancintaimu.” Lanjutku sambil beralih kepipi sebelahnya dan dahi.
       Aku beralih kesaudara tiriku, melihat wajahnya yang ketakutan air matanya mulai deras. Aku sangat suka melihat ekspresinya seperti itu aku belum pernah melihatnya aku sangat menikmatinya. Aku menancapkan sepatu kacaku tadi kedekat mulutnya lalu menarik garis lurus sampai telinga. Lihatlah dia seperti tersenyum sangat lebar. Itu mulut yang selalu menghinaku dengan begini bukankah aku memberinya kesempatan untuk brbicara dan menghinaku lebih banyak.
        Aku melihat saudara tiriku satunya yang sejak tadi berteriak-triak sampai terisak. sepertinya dia tidak sabar menunggu gilirannya.  Aku mendekatkan sepatu kacaku kematanya. Mata yang selalu melihatku dengan sinis tatapan mata yang selalu menghinaku. Aku berusaha mencokel matanya mengeluarkan biji matanya.
“Bu, aku lapar,”kataku sambil memegang perutku.
“Bagaimana dengan kalian?” lanjutku yang sudah mngambil pisau pemotong daging dan berjalan kearah mereka.
          Terimakasih ibu dan saudara-saudaraku kalian benar lebih baik aku tidak pergi kepesta dansa di istana. Karena pestaku disini lebih menyenangkan. Sudah lama aku tidak makan daging panggang yang begitu banyak. Lagipula untuk apa datang kepesta dansa bertemu dengan pangeran mesum yang akan meraba seluruh tubuh para gadis disana dengan alibi berdansa diiringi musik klasik nan romantis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

frozter

FROZTER Terlahir sebagai seorang tuan putri di sebuah kerajaan besar nan makmur ditambah lagi sebuah anugrah kekuatan yang luar biasa...